PERPUSTAKAAN DAN INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT LITERATE
Dalam masyarakat literate, keberadaan sebuah perpustakaan tidak bisa diabaikan. Perpustakaan selain sebagai sistem simpan dan temu kembali informasi (SSTKI) juga sebagai agent of change. Melalui perpustakaan diharapkan senantiasa terwujud masyarakat yang memiliki partisipasi aktif dalam memahami dan mengolah informasi yang tertuang dalam publikasi sehingga informasi menjadi bagian dari kebutuhan pokok setiap orang.
Partisipasi aktif dalam memahami dan mengolah informasi tersebut dimulai dengan menumbuhkan minat baca bagi anak-anak, kaum muda, dan dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Minat baca dari berbagai generasi bisa tumbuh jika lingkungan mendukung.
Globalisasi- sebagai dampak dari kemajuan teknologi dan informasi- yang merambah ke dalam semua aspek lingkungan kehidupan menyebabkan perubahan pola hidup masyarakat. Menjamurnya mall, plaza, kafe, dan tempat-tempat hiburan lainnya merupakan salah satu indikasi merambahnya globalisasi. Interaksi sosial sebagian besar lapisan masyarakat terjadi di tempat-tempat tersebut. Laki-laki dan perempuan, dari kalangan anak-anak, kaum muda, hingga kaum dewasa melakukan interaksi sosial di mall, plaza, kafe, dan tempat-tempat hiburan lainnya.
Perpustakaan harus diberdayakan di segenap aspek lingkungan masyarakat agar tercipta iklim minat baca dan dijadikan sebagai wahana interaksi sosial dalam masyarakat literate.
Perpustakaan merupakan sumber informasi dalam lingkungan masyarakat literate. Di dalam perpustakaan tersedia berbagai koleksi informasi yang tersimpan di dalam koleksi cetak dan noncetak (buku, majalah, surat kabar, file-file elektronik, kaset, kepingan cd, dan sebagainya).
Di lingkungan keluarga hendaknya orang tua menanamkan minat baca kepada anak-anaknya dengan cara menyediakan buku-buku, koran, majalah, dan sebagainya di teras, ruang tamu, kursi kebun, ruang makan, dapur, dan ruang lainnya. Hal ini akan memicu anak untuk menumbuhkan minat ingin tahu terhadap isi bacaan tersebut.
Perpustakaan belum bisa dijadikan tempat interaksi sosial karena masyarakat memiliki persepsi khas yang tertanam di benak mereka. Persepsi tersebut berbanding lurus dengan realitas yang ada, antara lain:
|
No. |
Perpustakaan |
Mall/ Plaza |
|
1. |
Sempit dan pengap |
Luas dan nyaman |
|
2. |
Petugas kurang ramah, cenderung galak, tidak menyapa pengunjung, mengabaikan (ora nguwongke) pengunjung, kinerjanya lamban |
Pelayan selalu ramah, menyapa pengunjung, selalu tersenyum, cekatan dalam bekerja |
|
4. |
Jam buka 08.00-17.00 |
Jam buka 10.00-22.00 |
|
5. |
Penuh rak-rak tinggi berisi buku-buku dan terkesan menyeramkan |
Jajaran etalase yang isinya menakjubkan |
|
6. |
Koleksinya kurang menarik, tidak mengikuti perkembangan zaman |
Koleksinya menarik, selalu mengikuti perkembangan zaman |
|
7. |
Hanya untuk digunakan untuk membaca, mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk mengerjakan tugas sekolah/ kuliah |
Bisa dijadikan tempat belanja, tempat bertemu relasi, atau sekedar menghabiskan waktu |
Perpustakaan harus bisa menggiring masyarakat agar mereka senantiasa berinteraksi sosial untuk berpartisipasi aktif dalam memahami dan mengolah informasi yang tertuang dalam publikasi sehingga menjadikan informasi menjadi bagian dari kebutuhan pokok setiap orang. Langkah-langkah yang diambil ialah:
|
No. |
Jenis Perubahan |
Manfaat |
|
1. |
Bentuk bangunan seperti mall, plaza, atau kafe |
Bangunan yang menakjubkan, luas, dan nyaman merupakan daya tarik bagi pengunjung |
|
2. |
Jam buka diperpanjang |
Perpustakaan harus buka dari jam 08.00-21.00 |
|
3. |
Pelayanannya harus ditingkatkan |
Petugas harus menyapa pengunjung, tersenyum, membantu pengunjung ketika kesulitan memperoleh informasi yang dibutuhkan, cekatan dalam melayani pengunjung, dan profesional dalam bekerja |
|
4. |
Pemutaran film |
Film-film yang digemari masyarakat hendaknya diputar di perpustakaan |
|
5. |
Jumpa artis |
Artis bisa dijadikan magnet agar generasi muda gemar mengunjungi perpustakaan. Artis ini harus memiliki kepedulian terhadap minat baca dan gemar berkunjung ke perpustakaan |
|
6. |
Pertunjukan musik |
Pertunjukan musik di perpustakaan akan menyebabkan peningkatan minat generasi muda untuk berkunjung ke perpustakaan. |
|
7. |
Atraksi sulap dan badut |
Sulap dan badut ini harus memotivasi agar anak-anak gemar berkunjung ke perpustakaan dan membaca buku sehingga wawasan mereka menjadi bertambah luas. |
